The Lippo Way !By John[6]"Super Mall Karawaci"

The Lippo Way !By John[6]"Super Mall Karawaci"



<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way !By John[6]"Super Mall Karawaci" ">
Ilustrasi Image bywallpaperup.com

BAB 3; CARA KASAR

Cara kasar biasanya mereka(Lippo Group) lakukan jika cara halus gagal. Inti dari cara ini adalah dengan menantang Anda berkonfrontasi langsung atau langsung menyerang Anda dengan brutal, dengan mengeksploitasi semua kelemahan anda.
Sebelumnya Anda baca artikel berkaitan;

The Lippo Way !By John,Cara Sukses ala Lippo[1]
The Lippo Way !By John,Cara Sukses ala Lippo[2]
The Lippo Way! By John,The Case of Kemang Village[3]
The Lippo Way !By John,Case of Matahari Department Store
The Lippo Way !By John,Case of University Pelita Harapan[5]



Super Mall Karawaci

Mall ini, lepas dari tangannya tak lama setelah kerusuhan hebat yang melanda Indonesia pada 14‐15 Mei 1998.Pada waktu itu,Mall di jantung Lippo Karawaci ini disita BPPN sebagai kompensasi atas hutang‐hutang Lippo yang menumpuk.

Menjelang Krisis Moneter mulai berakhir,Mall ini ditebus oleh David Salim dari BPPN.Negara yang saat itu sedang perlu wang dengan senang hati melepaskannya dengan harga murah.

Konon, James dan Mochtar marah kerana merasa asetnya dicuri daripadanya (padahal dia sendiri yang bikin bangkrut).James berusaha membeli balik namun tidak dijual.

Sebagai balasan, dia membangun Mall yang lebih mewah disampingnya dengan tujuan untuk membuat saingannya bangkrut.Lebih jauh lagi, dia juga membangun apartment tinggi yang berhadapan dengan apartment yang ada di kompleks Super Mall dengan tujuan menghalangi view mereka akan padang golf yang asri. Maksudnya supaya para penghuninya memprotes
David Salim kerana janji marketing dari apartment itu adalah 'golf view'.

Cara kekanak‐kanakan, tapi jangan anggap enteng.Kerana sering kali ini dilakukan bukan atas perhitungan bisnis, tapi atas kepuasan ego.

Lippo Carita

Lippo Carita adalah kisah kegagalan grup Lippo. Kerana Resort yang katanya akan jadi salah satu yang paling sukses di Asia ini tidak laku dengan ratusan Apartment tidak terjual, akhirnya menjadi kumuh dan harganya tidak naik‐naik bahkan jauh setelah melewati krisis moneter yang berhasil mendongkrak harga properti puluhan kali lipat.

Harga yang tidak naik‐naik itu diperburuk dengan aksi korporasi Lippo yang mengobral baki apartment yang ada dengan harga separuh harga pasar, hingga hancurlah harga Lippo Carita.

Para pembeli lama marah besar atas aksi ini, namun tidak dapat berbuat apa‐apa.Bertahun‐tahun berlalu, munculah indikasi kalau daerah Carita akan bangkit kembali.Para investor kakap mulai memasukan wangnya. Saat itu menyesallah grup Lippo.
Supaya tidak kalah langkah, dia menyebarkan orang‐orangnya untuk membeli kembali Lippo Carita dari tangan pemilik lama.

Tapi konon tak ada yang sudi menjualnya pada Lippo, maka itu mulailah dia main kasar:

1. Menutup kolam renang, dengan alasan bahwa sertifikat kolam renang beda dan bukan milik dari Resort

2. Saat poin no 1 gagal, dia bertindak lebih jauh dengan mematikan bekalan air.

3. Sementara itu para orang JR berkeliaran dengan tugas merayu pemilik untuk menjual.

Diperlakukan begitu, perhimpunan penghuni marah dan bersatu melakukan tuntutan hukum. Melihat penghuni dapat bersatu, Lippo segera menghidupkan kembali bekalan air.

Terlepas dari cepatnya dia mundur, ini mengindikasikan kalau dia tidak segan‐segan melakukan segala cara untuk mencapai apa yang dia inginkan. Jika saja para penghuni tidak bersatu, maka dapat dipastikan dia akan melakukan aksi yang semakin kasar.


<img src="The Lippo Way.jpg" alt=" The Lippo Way !By John[6]"Super Mall Karawaci" ">

Supplier Grup Lippo

Salah satu cara lain memaksimalkan keuntungan yang dipelopori Lippo adalah dengan tidak membayar supplier. Kalau pun terpaksa bayar, bayarlah semurah mungkin dan jangan dalam bentuk wang.
Jurus yang satu ini sangat terkenal di tahun 90an dan banyak yang menirunya. Semua kontraktor dan supplier grup Lippo umumnya dibayar dengan barang. Itupun kebanyakan bukan yang kualiti baik.

Salah satu yang mereka pelopori dan akhirnya menjadi popular adalah dengan tidak membayar kontraktor.

Semua kontraktor Lippo dibayar dengan menggunakan rumah yang mereka bangun sendiri. Bukan dengan wang.Itupun bukan dengan harga diskaun, tapi dengan harga pasar yang sudah di mark-up sekian kali lipat.

Perhatikan klausul perjanjian Anda. biasanya ada kata‐kata intinya sebagai berikut :
Anda akan dibayar sekian dalam waktu sebulan setelah pekerjaan anda terbukti baik. Jika gagal bayar, maka anda berhak menyita aset perusahaan senilai sama dengan hutang Anda.

Nah, klausul (
Clause)ini biasanya digunakan untuk mencari‐cari kesalahan Anda, mengulur pembayaran, bahkan meminta diskaun lagi dari harga yang sudah disepakati.

Setelah semua poin dipenuhi, itupun pembayaran akan terus diulur dengan berbagai alasan. Yang paling sering adalah bos sedang tidak di tempat, atau bos tidak suka desainnya. Sampai akhirnya anda akan dibayar dengan rumah.

Praktek ini banyak ditiru, bahkan kini menjadi lazim diantara perusahaan raksasa. Kenapa para kontraktor akhirnya menerima? Kerana dalam banyak kasus, harga property nya naik dan si kontraktor tidak dapat berbuat apa-apa tindakan.

Salah satu kasus ngemplang(menipu)supplier terbesar mereka adalah kasus Great River Garment.
TO BE CONTINUED.

Share this: